Kisah Bapak Penjual Kripik Singkong

Siang yang cukup terik dan tidak mendung seperti biasanya di daerah Dipatiukur, depan warnet Green Herbs, daerah sekitar ITHB (Institute Teknologi Harapan Bandung), saya dan kawan-kawan yang saat itu sedang asyik membahas tentang maraknya AIDS di Bandung, tersayat ketika melihat seorang bapak penjual kripik singkong berjalan oleng didepan kami, tidak lama beberapa pemuda pun membantu bapak tersebut untuk istirahat dan duduk sejenak. Bapak penjual kripik singkong tersebut berasal dari Malangbong (Garut) dan sengaja datang ke Bandung untuk menjualkan Kripik Singkong dengan cara ditanggung seharga Rp. 3.500,- yang merupakan barang punya orang lain dan harus menyetorkannya pada hari itu juga. Bapak tersebut sangat resah dan bingung karena sebelumnya beliau telah ditipu oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab dan aku fikir dia sangat jahat! Seseorang yang menipu bapak tersebut pura-pura mengambil 15 buah kripik singkongnya dan berjanji akan kembali dengan membawa uang untuk membayar kripik-kripik tersebut, namun seiring berjalan waktu seseorang tersebut pun tak kunjung datang, padahal bapak penjual kripik itu sudah menungggu lama. Awalnya para pemuda yang membantu bapak tersebut akan mencari seseorang itu, namun bapak penjual kripik khawatir kesorean karena harus kejar setoran. Sungguh malang nasib bapak tersebut, umurnya yang sudah tua, tangannya yang gemetar mengingatkanku pada almarhum kakek. Teman-teman yang lain menggerutu dengan kejadian itu, mereka bertanya-tanya kenapa bapak tersebut harus bekerja dan mengapa anak-anaknya tidak membantu?

Aku fikir, ini fakta di depan mata bagaimana mayoritas manusia di dunia saat ini sangat individualis dan mereka hanya mementingkan nasib mereka sendiri. Tidak hanya kepada kawan-kawannya bahkan keluarga pun dibiarkan begitu saja. Para tetangga di sekitarnya pun memiliki perasaan segan dan tidak enak jika membantu dan memberi saran karena sangking kita dididik menjadi manusia yang individualis. Negara pun tidak berfungsi sama sekali meskipun negara memiliki otoritas yang tertinggi dalam kehidupan ini. Semuanya sama sekali tidak berfungsi ketika Sistemnya tidak diubah sampe kapan pun. Aku heran dengan orang-orang, kenapa kita semuanya masih nyaman hidup di dunia yang serba hedonis, serba liberal teu puguh tanpa aturan yang jelas hingga teori homo homini lupus pun berlaku saat ini, dimana yang kuat yang akan menang. Semua mencoba menjadi cannibal untuk kejayaan dan atas dasar kepentingan pribadi semuanya halal. Dan semua itu tidak ada batasannya,tidak ada aturan yang jelas dan adil, aturan hanya berlaku bagi orang-orang yang memiliki kepentingan. Negara sebagai struktur tertinggi hanya menjadi hiasan belaka dan cacat selamanya. Oleh karena itu wajar jika ada kasus seperti diatas, itu adalah satu dari sejuta masalah yang ada, dan kita hanya diam????!!!! Semakin mengerikan hidup ini…. Kita Hanya diam??????!!! Padahal kita dapat berbuat sesuatu untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik. Ada statement yang menarik ketika aku dan teman-teman membahas tentang Maraknya AIDS di Bandung, dia bilang bahwa ”segala sesuatu berasal dari Agama”, sebenarnya ini adalah kata yang ambigu bagi saya, karena yang namanya agama itu banyak, kecuali jika kita ingin mencari sesuatu yang sempurna dari sebuah agama, hanya ISLAM yang punya!!!

Tinggalkan sebuah Komentar