Dari hari ke hari saya mengamati kondisi masyarakat Indonesia khususnya kaum muslim yang semakin kompleks dengan kebutuhan hidupnya. Saying seribu saying, masyarakat Indonesia yang semakin kompleks dengan keubutuhannya belum bias memanfaatkan momen indah dibulan yang penuh dengan obral pahala ini namun malah dilewatkan begitu saja.Padahal Ramadhan adalah momentum peningkatan iman dan takwa bagi kita, apalagi didalamnya terdapat momen turunnya Al-Quran yang semestinya menambah keceriaan terhadap kaum muslimin untuk semakin berlomba-lomba mendapatkan pahala.
Indonesia merupakan salah satu Negara yang mayoritas orangnya memeluk Islam. Namun, belum bisa memanfaatkan informasi-informasi yang terdapat dalam Kalamullah. Salah satunya, dibulan Ramadhan in isetiap muslim dituntu untuk beibadah kepada Allah secara kusyuk. Namun, tidak sedikit umat muslim yang masih berani makan dikantin siang hari. Contoh lainnya adalah para kawula muda yang tidak bisa menjaga dirinya dari berkhalwat (berdua-duaan) dijalan ataupun ditempat sepi. Bahkan mereka memanfaatkan momen buka bareng untuk menggelar itu semua.
Semuanya serba ironis. Itulah contoh-contoh kecil yang bisa kita jumpai di masyarakat kita saat ini. Namun, tidak ada yang dapat mengubah semua itu kecuali kembali ke masing-masing manusia. Perpertanyaannya adlah dengan teori “kembali ke masing-masing manusis”itu apakah bisa mengubah kondisi jika system yang mengikat mereka justru mendukung mereka untuk melakukan kemaksiatan?
Dari sini kia bisa menyimpulkan bahwa kita tidak bisa melihat sebuah masalah dari satu sisi yaitu hanya dari individunya tersebut tapi ternyata ada [enyakit yang lebih mematikan yang harusnya kembali ke system yang diajarkan baginda Rosulullah saw yaitu system KHILAFAH ISLAMIYAH.